Npm : 15211177
Kelas : 3Ea18
Definisi Penalaran
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empiric)
yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.berdasarkan pengamatan yang
sejenis juga akan berbentuk proposisi-proposisi yang sejenis,berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar,orang menyimpulkan sebuah
proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.proses inilah yang disebut
menalar.
Proporsi
Proporsi merupakan kata yang sangat
biasa dipakai dalam kehidupan
sehari-hari dan sangat familiar di telinga kita. Kita sering mengatakan
"Wah, orang itu tinggi badan dan berat badannya proporsional", atau
dengan kata yang lain "Kalau berbuat sesuatu I tu yang proporsional, jangan
berlebih-lebihan". Sebenarnya apakah arti dari proporsional. Menurut Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia (Indrawan, 2000, p.409) proporsi adalah keseimbangan.
Jadi ungkapan yang di depan tadi "Wah, orang itu tinggi badan dan berat
badannya proporsional" berarti antara tinggi badan dan berat badan
seimbang.
Evidensi
Evidensi adalah semua fakta
yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi
merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami
suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris.
Cara Menguji Data
Data dan informasi yang
digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan
pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta
itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat
digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu
merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan
penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah
itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat
digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi
1. Konsistensi
2. Koherensi
Cara Menilai Autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja
atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data
eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
Sumber :
http//wikipedia.com
Indrawan,
WS. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jombang: Lintas Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar