Rabu, 12 Maret 2014

Bahasa Indonesia 2

Nama    :               Nina Suryani

Npm      :               15211177
Kelas     :               3Ea18

Definisi Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empiric) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan berbentuk proposisi-proposisi yang sejenis,berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar,orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.proses inilah yang disebut menalar.

Proporsi
 Proporsi  merupakan  kata  yang  sangat biasa dipakai dalam  kehidupan sehari-hari dan sangat familiar di telinga kita. Kita sering mengatakan "Wah, orang itu tinggi badan dan berat badannya proporsional", atau dengan kata yang  lain "Kalau  berbuat sesuatu I tu yang proporsional, jangan berlebih-lebihan". Sebenarnya apakah arti dari proporsional. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Indrawan, 2000, p.409) proporsi adalah keseimbangan. Jadi ungkapan yang di depan tadi "Wah, orang itu tinggi badan dan berat badannya proporsional" berarti antara tinggi badan dan berat badan seimbang.

Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris.

Cara Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas

Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah  data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan  fakta, maka harus  diadakan  penilaian. Penilaian tersebut  baru  merupakan  penilaian tingkat  pertama untuk mendapatkan  keyakitan  bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian  tingkat  kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi

Cara Menilai Autoritas
Seorang  penulis yang objektif selalu menghidari  semua desas-desus atau kesaksian dari tangan  kedua. Penulis yang baik akan membedakan  pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan

Sumber :
http//wikipedia.com
Indrawan, WS. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jombang: Lintas Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar