Minggu, 20 April 2014

Proposal Penelitian "Bahasa Indonesia 2"



BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Krisis ekonomi yang sedang melanda negara kita ini menuntut setiap perusahaan untuk menyelenggarakan manajemen yang tepat pada semua aspek, yang mencakup aspek keuangan, aspek sumber daya manusia, aspek produksi, aspek penjualan, dan masih banyak lagi aspek lain yang sangat berkaitan dengan situasi kelesuan perekonomian.
Dari semua aspek diatas dapatlah dikatakan bahwa aspek penjualan mempunyai peranan yang sangat penting bagi berhasil tidaknya tujuan dari suatu perusahaan terhadap lingkungan perekonomian itu sendiri yang sangat kompetitif dan bervariatif.
Oleh karena itu sebagaimana diketahui, sebelum suatu perusahaan melaksanakan kegiatan penjualannya, pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan penyusunan terhadap perencanaan penjualan yang akan dipergunakan sebagai pedoman pelaksanaan proses penjualan. Dalam hal ini perlu diketahui tentang dua unsur penjualan, yaitu peramalan penjualan dan perkiraan penjualan.
Pentingnya melakukan peramalan penjualan antara lain adalah untuk pengawasan dalam persediaan atau inventory control, karena dalam hal ini jika persediaan yang ada terlalu kecil, maka akan mempengaruhi kelancaran kegiatan penjualannya. Peramalan penjualan juga dapat digunakan untuk membantu kegiatan perencanaan dan pengawasan produksi, karena dengan adanya peramalan penjualan, maka perusahaan dapat mengetahui kemungkinan kegiatannya  dikemudian hari, sehingga para manajer perusahaan dapat mengusahakan perbaikan sistem produksinya agar efisien dan dapat melakukan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang akan  terjadi dikemudian hari. Berdasarkan uraian diatas, maka timbul keinginan penulis untuk melakukan penelitian dengan judul:
       “ ANALISIS PERAMALAN PENJUALAN SPARE PART MOBIL PADA BENGKEL BBJA MOTOR“
 I.2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ilmiah ini adalah bagaimanakah meramalkan penjualan Spare Part Mobil di tahun yang akan datang dengan menggunakan Metode Trend Linier  Least Squares dan Metode Trend Eksponensial.

I.3. Batasan Masalah
Untuk lebih memfokuskan pembahasan sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang baik dan untuk menghindari kesimpangsiuran  yang mungkin akan terjadi didalam pembahasan, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya yaitu mengenai peramalan tahunan dan kebijaksanaan dalam pemenuhan permintaan dengan menggunakan data tahunan dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 dengan menggunakan metode Trend Linier Least Squares dan metode Trend Eksponensial, karena untuk mengetahui rata-rata perubahan ( tiap tahunnya ) dalam jangka panjang.
I.4. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan masalah diatas, maka tujuan penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui berapa jumlah penjualan pertahun dimasa yang akan datang.
  2. Untuk dapat menetapkan metode apa yang sebaiknya digunakan dalam menyusun strategi penjualan.
  3. Untuk menetapkan apakah strategi penjualan yang ditetapkan oleh perusahaan  sudah berhasil.
I.5. Metodologi Penelitian
Dalam penyusunan penulisan ilmiah ini, metode yang digunakan adalah metode gabungan yaitu :
  1. Studi Lapangan
Pengumpulan data dan informasi yang mengadakan penelitian yang dilaksanakan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti.
  1. Studi Pustaka
Pengumpulan data-data dan informasi dari literatur dan bahan tertulis lainnya sehingga dapat diperoleh gambaran mengenai masalah dan langkah-langkah untuk menganalisa secara lebih komperhensif.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.      Pengertian Peramalan
Peramalan atau forecasting permintaan akan produk dan jasa di waktu mendatang dan bagian-bagiannya adalah sangat penting dalam perencanaan dan pengawasan produksi. Yang dimaksud dengan peramalan produksi atau production forecasting dalam hal ini adalah peramalan tentang produk apa dan berapa yang akan diproduksi oleh perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, maka dari peramalan produksi yang disusun oleh perusahan ini akan dapat diberikan data produk apa saja yang akan diproduksi pada periode yang akan datang, sekaligus berapa jumlah masing-masing produk yang akan dipromosikan dalam perusahaan tersebut.
            Peramalan menurut Pangestu Subagyo ( Forecasting : 2002 ) :
“ Forecasting adalah peramalan atau perkiraan yang belum terjadi. Dalam ilmu pengetahuan sosial segala sesuatu itu serba tidak pasti, sukar diperkirakan secara tepat, oleh karena itu digunakan forecasting yang bertujuan agar forecast atau peramalan yang dibuat bisa meminimumkan pengaruh ketidakpastian ini terhadap perusahaan”.
Peramalan menurut Philip Kotler ( Manajemen Pemasaran :1995 ) :
“ Peramalan adalah tingkat penjualan perusahaan yang diharapkan berdasarkan rencana pemasaran yang dipilih dan lingkungan pemasaran yang diasumsikan “.
Peramalan menurut Phillip Kotler dan Garry Amstrong (Dasar-DasarPemasaran : 1997) :
“Peramalan adalah seni memperkirakan permintaan dimasa depan dengan mengantisipasi apa yang tampaknya akan dilakukan pembeli di bawah kondisi masa depan tertentu.”
s                        Fungsi dari tinjauan terhadap penglihatan masa depan ini adalah membantu para pengambil keputusan dalam memilih alternatif-alternatif yang menjadi arah keputusannya, dan kemudian melihat konsekuensi dari keputusan tersebut dimasa yang akan datang.
                     
   Beberapa sumber data yang dapat digunakan untuk melakukan peramalan adalah sebagai berikut:
  1. Pendapat konsumen
  2. Pendapat langganan atau kostumer
  3. Catatan atau pendapat distributor
  4. Catatan penjualan dari perusahaan yang bersangkutan.


2.2.      Kategori Dasar Metode Peramalan
                        Metode peramalan dapat dibagi kedalam beberapa kategori utama  yaitu:
  1. Metode Ekstrapolasi
Metode ini menggunakan riwayat permintaan masa lalu dalam membuat ramalan untuk masa depan. Sasaran metode ini adalah mengidentifikasikan pola data historis dan mengekstrapolasi pola ini untuk masa mendatang. Proses ini dapat disamakan dengan mengendarai mobil sambil melihat melalui kaca spion. Tetapi jika cakupan waktu peramalan pendek, metode ekstrapolasi memberikan hasil cukup baik.
  1. Metode Kausal
Metode ini mengasumsikan bahwa permintaan akan suatu produk bergantung pada satu atau beberapa faktor independen, Misalnya harga iklan, harga pesaing, dan sebagainya. Metode ini berusaha menetapkan hubungan antara variabel yang akan diramalkan dengan variabel-variabel independen. Setelah hubungan ini ditemukan, nilai-nilai masa mendatang dapat diramalkan cukup dengan memasukkan nilai-nilai yang sesuai untuk variabel-variabel independen.
  1. Metode Kualitatif
Metode ini mengandalkan opini pakar atau manajer dalam membuat prediksi tentang masa depan. Metode ini berguna untuk tugas peramalan jangka panjang, penggunaan pertimbangan (judgment) dalam peramalan sekilas, tampaknya tidak ilmiah dan bersifat sementara. Tetapi, bila data masa lalu tidak ada atau tidak mencerminkan masa mendatang tidak banyak alternatif selain menggunakan opini dari orang-orang yang berpengetahuan. Tetapi, ada cara yang baik dan cara yang buruk untuk mendapatkan pertimbangan (judgment) guna membuat peramalan.
4.   Top down forecasting
Dimulai dengan penggunaan hasil-hasil peramalan berbagai kondisi bisnis umum yang dibuat oleh para ahli ekonomi dalam lembaga pemerintah dan perusahaan besar serta unversitas-universitas.
5.    Bottom up forecasting
Dimulai dengan perkiraan permintaan produk akhir individual. Peramal menerima estimasi dari orang-orang penjualan, distribusi dan langganan.
2.3.      Proses Peramalan
Proses peramalan biasanya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penentuan Tujuan
Langkah pertama terdiri atas penentuan macam estimasi yang diinginkan. Sebaliknya, tujuan tergantung pada kebutuhan-kebutuhan informasi para manajer.
            2. Pengembangan Model
Setelah tujuan ditetapkan, langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu                   model yang merupakan penyajian secara lebih sederhana sistem yang dipelajari. Dalam peramalan model adalah suatu kerangka analitik yang bila dimasukkan data masukan, menghasilkan estimasi penjualan diwaktu mendatang.
            3. Pengujian Model
Sebelum diterapkan model biasanya diuji untuk menentukan tingkat   akurasi, validitas dan reliabilitas yang diharapkan. Ini sering mencakup penerapannya pada data historik, dan penyiapan estimasi untuk tahun-tahun sekarang dengan data nyata yang tersedia.
            4. Penerapan Model
Setelah pengujian, analisis menerapkan model dalam tahap ini data historik  dimasukkan dalam model untuk menghasilkan suatu ramalan.
            5. Revisi dan Evaluasi
Ramalan yang dibuat harus senantiasa diperbaiki dan ditinjau kembali. Perbaikan mungkin perlu dilakukan karena adanya perubahan-perubahan dalam perusahaan atau lingkungannya.

 2.4.      Teknik – Teknik Peramalan
                                    Dalam pemilihan teknik yang menggunakan metode peramalan perlu diperhatikan hal-hal apa saja yang dipergunakan untuk pengambilan keputusan dan analisa keadaan untuk mempersiapkan peramalan.
            Ada lima ciri utama yang perlu diperhatikan. Yaitu:
  1. Jumlah Produk.
Analisa apa yang dibuat mengenai berbagai jenis produk yang ditawarkan oleh perusahaan itu sendiri, yang ada baiknya menuju pada pengembangan usaha yang dilakukan perusahaan itu sendiri.
  1. Ketepatan.
Tingkat ketepatan sangat erat hubungannya dengan perincian yang diperlukan oleh suatu peramalan.
  1. Horizon Waktu
Keputusan suatu analisa akan sangat berpengaruh, dan pada saat itu manager harus memperhitungkan pemakaian metodeyang tepat pada saat itu juga.
  1. Biaya
Unsur biaya yang terdapat dalam peramalan
-          penyimpana data
-          kesempatan untuk memakai metode atau teknik lainnya
-          biaya untuk pengembangan
-          operasi pelaksanaan
  1. Tingkat Perincian
Dalam pengambilan suatu keputusan pada umumnya telah dibagi-bagi. Dalam hal ini untuk mempermudah dalam hal penanganannya menurut tingkat perincian yang diperlukan.

2.5.      Jenis – Jenis Peramalan
Apabila dilihat ulang dari segi penyusunannya, maka peramalan dapat dibedakan atas dua macam:
1.         Peramalan Subjektif.
Peramalan yang didasarkan atas perasaan dari penulisnya sendiri
2.         Peramalan Objektif.
Peramalan yang didasarkan atas data yang kongkrit pada masa lalu dan didalam penggunaannya memakai teknik dan metode untuk menganalisa seluruh data tersebut.

            Berdasarkan sifatnya, peramalan dibedakan menjadi dua macam yaitu:
  1. Peramalan Kualitatif
Peramalan yang didasarkan atas kualitatif pada masa lalu dan hasil peramalan yang dibuat tergantumg pada orang yang menyusunnya. Biasanya peramalan kualitatif berdasarkan atas hasil penyelidikan atau didasarkan ciri-ciri normatif.
  1. Peramalan Kuantitatif
Peramalan yang didasarkan atas data yang lalu dan hasil peramalan yang dibuat sangat tergantung pada ramalan tersebut. Peramalan ini hanya dapat digunakan apabila terdapat tiga kondisi, yaitu:
  1. Adanya informasi tentang keadaan yang lain.
  2. Informasi tersebut dapat dikualifikasikan dalam bentuk data.
  3. Data diasumsikan bahwa pola yang lalu akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.
2.6.      Akurasi Metode Peramalan
                     Akurasi metode peramalan merupakan salah satu kriteria terpenting untuk membandingkan berbagai metode peramalan. Biaya, kemudahan aplikasi, dan persyaratan spesifik dari suatu situasi perencanaan adalah faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemilihan metode peramalan. Sukar menentukan metode mana yang akan memberikan ramalan paling akurat dalam suatu situasi tertentu. Tetapi selama bertahun-tahun, banyak bukt empirik telah dikumpulkan baik berupa data hipotetik maupun nyata yang memungkinkan beberapa kesimpulan umum tentang akurasi relatif dari berbagai metode peramalan.
                        Makridakis dan Winkler (1983) secara empirik memperkirakan dampak dari jumlah dan pilihan metode peramalan atas akurasi ramalan bila hasil dari metode yang digunakan dirata-ratakan langsung untuk mendapatkan hasil ramalan akhir. Temuan-temuan pokok mereka adalah sebagai berikut:
  • Akurasi peramalan meningkat jika ramalan dari lebih banyak metode dikombinasikan untuk menghasilkan ramalan akhir; tetapi dampak marjinal dari penambahan satu metode berkurang dengan semakin banyaknya jumlah metode yang digunakan.
  • Resiko kesalahan yang lebih besar dalam peramalan yang mungkin disebabkan oleh pemilihan metode yang keliru berkurang bila hasil dari dua atau lebih metode di kombinasikan.
  • Variabel dalam akurasi ramalan diantara berbagai kombinasi metode peramalan berkurang dengan makin banyaknya metode yang digunakan.
                        Jadi, alternatif yang bisa dilakukan bila kita tidak pasti mengenai metode peramalan yang terbaik adalah mengambil rata-rata ramalan dari dua atau beberapa model peramalan.
2.7.      Pemilihan Metoda Yang Tepat
                                    Jika proses perubahan dapat diketahui dengan tepat maka forecast pasti bisa tepat seperti yang akan terjadi. Hal ini hanya bisa terjadi dalam ilmu alam dan ilmu pasti. Misalnya kalau suhu udara dipanaskan, apabila faktor lain tetap maka tekanan udara akan bertambah. Hubungan antara tekanan dengan suhu udara ini sudah tetap, artinya kalau diulang lagi pasti hasilnya sama. Lain halnya dalam ilmu sosial, hubungan yang pasti ini sulit diperoleh dan pola perubahan yang sebenarnya sulit diketahui.
Oleh karena itu dalam membuat forecast keadaan sosial pada umumnya dan bidang ekonomi pada khususnya tidak mungkin bisa tepat. Penyimpangan pasti ada karena tingkah laku manusia itu selalu dipengaruhi oleh berbagai macam hal, seperti kebudayaan, selera, perasaan, dan sebagainya. Dalam bidang sosial dan ekonomi, meskipun kita tidak bisa membuat forecast yang persis sama dengan kenyataan, tetapi bukan berarti forecast ini tidak penting, forecast sangat penting sebagai pedoman dalam pembuatan rencana. Kerja dengan menggunakan forecast akan jauh lebih baik daripada tanpa forecast sama sekali. Hanya sekarang masalahnya bagaimanakah cara membuat forecast agar bisa mendekati kenyataan. Caranya kita harus bisa memilih metode forecast yang paling cocok dengan masalahnya.
Bagaimanakah cara membuat forecast agar bisa mendekati kenyataan. Caranya kita harus bisa memilih metode forecast yang paling cocok dengan masalahnya. Banyak sekali metoda forecasting yang ada, misalnya metode moving averages, metode exponential smoothing, metoda dekomposisi, metode input output, metde regresi, metode simulasi, dan sebagainya. Kesemuanya itu belum tentu cocok untuk setiap masalah. Tidak ada metoda forecasting yang paling baik dan selalu cocok digunakan untuk membuat forecast setiap macam hal. Suatu metoda mungkin sangat cocok untuk membuat forecast mengenai sesuaru hal tetapi tetapi tidak cocok untuk membuat forecast hal yang lain. Oleh karena itu kita harus memilih metode yang cocok, yaitu yang bisa meminimumkan kesalahan forecast.
2.8.      Metoda Dekomposisi
                        Metoda Dekomposisi sering juga disebut sebagai metoda Time Series. Metoda ini didasarkan pada kenyataan bahwa biasanya apa yang telah terjadi itu akan berulang kembali dengan pola yang sama. Artinya yang dulu selalu naik , pada waktu yang akan datang biasanya akan naik juga; yang biasanya berkurang biasanya akan berkurang juga; yang biasanya berfluktuasi akan berfluktuasi dan biasanya tidak teratur, biasanya akan tidak teratur.
            Perubahan suatu hal itu biasanya mempunyai pola yang agak kompleks, misalnya ada unsur kenaikan, berfluktuasi dan tidak teratur. Untuk dianalisa dan diramal sekaligus sangat sulit, sehingga biasanya diadakan dekomposisi atau pemecahan yang komponen perubahnya terdiri dari; Trend (T), Fluktuasi Musiman (M), Fluktuasi Siklis (S), dan perubahan-perubahan yang bersifat Random (R). Disini yang akan dibahas adalah Trend (T).
            Trend atau sering disebut Seculer Trend adalah rata-rata perubahan (biasanya tiap tahun) dalam jangka panjang. Kalau hal yang diteliti menunjukkan gejala kenaikan maka trend yang dimiliki menunjukkan rata-rata pertambahan, sering disebut trend positif; tetapi kalau hal yang kita teliti menunjukkan gejala semakin berkurang, maka trend yang kita miliki menunjukkan rata-rata penurunan atau sering disebut trend negatif.
            Menurut Pangestu Subagyo ( Forecasting, Konsep dan Aplikasi : 2002), metoda Dekomposisi dibagi kedalam dua bentuk metoda yaitu metoda Trend Linier Least Squares dan Trend Eksponensial. Penggunaan metoda-metoda itu tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan sifat data yang dimiliki.
2.8.1        Trend Linier Dengan Metoda Least Squares
Sebetulnya ada beberapa metoda yang bisa dipakai untuk membuat trend linier ini, misalnya metoda setengah rata-rata, tetapi yang paling banyak digunakan adalah metoda least squares. Oleh karena itu dalam bagian ini yang akan kita bicarakan hanya metoda least squares saja. Dikatakn sebagai metoda least squares karena persaman yang diperoleh mengakibatkan jumlah kesalahan forecast kuadrat terkecil kalu dibandingkan dengan persamaan yang dihasilkan oleh metoda lain.
Untuk mencari persamaan trend dengan metoda least squares adalah sebagai berikut :
Ŷ =   a  +  bX
          Dimana Ŷ adalah nilai trend ( forecast ), a  adalah bilangan konstan, b adalah slope atau koefisien kecondongan garis trend dan X mewakili waktu (tahun).
                        Untuk mencari nilai a dan nilai b dari persamaan diatas, maka dapat digunakan dua persamaan normal sebagai berikut:
                        ∑Y   =  n . a  +  b . ∑X
                   ∑XY = a . ∑X + b . ∑X²
Untuk mempermudah  hitungannya biasanya  nilai X pada tahun yang berada di tengah diberi angka 0, tahun-tahun sesudahnya berturut-turut 1, 2, 3, dan seterusnya, sedangkan tahun-tahun sebelumnya berturut-turut   -1, -2, -3, dan seterusnya. Kalau jumlah data (tahun) ganjil, maka kita bisa meletakkan X = 0 tepat ditahun yang berada di tengah, sehingga persamaan diatas dapat dirubah, manghasilkan rumus untuk mencari nilai a dan nilai b secara lebih singkat sebagai berikut:
                                    a  =  ∑X / n
                             b =  ∑XY / ∑X²
Untuk data yang jumlah tahunnya genap akan menjadi masalah, sebab tidak ada tahun yang tepat di tengah dan nilai X = 0 terletak diantara dua tahun yang mendekati tengah. Untuk mengatasi hal ini kita buat skala X setengah tahunan, sehingga untuk setiap perbedaan satu tahun nilai X berbeda pula. Lihat contoh gambar 2.1.



                        1997    1998    1999    2000    2001    2002    tahun
                          -5         -3         -1          1         3           5       skala X
                        Gambar 2.1.    Skala  X dengan tahunan karena banyaknya tahun genap.
Tahun yang mendekati tengah diantara tahun 1999 dan 2000, oleh karena itu origin (X = 0) terletak di antara tahun 1999 dan 2000. Untuk tahun 1999 terletak setengah tahun sebelum tahun origin, maka diberi nilai X = -1, sedang tahun 2000 setengah tahun sesudah origin diberi nilai X = 1, sedangkan untuk tahun 2001 terletak satu setengah tahun dari origin maka diberi nilai X = 3; dan seterusnya.
2.8.2.      Trend Eksponensial
Perubahan sesuatu itu mungkin bersifat eksponensial, seperti persamaan di bawah ini :
          ŷ =  a b X
            Untuk mencari nilai a serta b pada persamaan diatas sukar, maka kita gunakan cara dengan bantuan logaritma, sehingga persamaannya berubah menjadi persaman dengan skala logaritma, yang menghasilkan proyeksi terhadap log Y, sebagai berikut:
                                    Log ŷ =  log a  +  x . log b
Untuk mencari nilai log a serta log b digunakan rumus sebagai berikut :

                                    Log a =  ∑ log y          dan log b =  ∑ ( x . log y )
                                            N                                         ∑ x²
Untuk mencari persamaan trend dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
  1. Susunlah data kedalam tabel
  2. Hitunglah logaritma ( log Y )dari data tersebut, kemudian hitung jumlahnya.
  3. Buatlah skala X dengan nilai 0 ditengah
  4. Hitung nilai X², kemudian jumlahkan.
  5. Kalikanlah hasil logaritma ( log Y ) dengan nilai X, kemudian jumlahkan.
  6. Hitung log a dan log b
  7. Hitung log Ŷ pada tahun yang dikehendaki.

BAB III
TINJAUAN PERUSAHAAN

3.1.      Sejarah Singkat Perusahaan
 Semakin mudahnya orang untuk memiliki mobil dan mengkredit mobil menjadikan pertumbuhan  jumlah mobil di Indonesia semakin meningkat dari hari ke hari, selain itu dengan pesatnya perkembangan industri otomotif menjadikan Usaha Bengkel Mobil terus berkembang. Pelanggan biasanya mendatangi bengkel mobil untuk  untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan pada mobil mereka antara lain : service mobil mulai dari skala ringan sampai berat, ganti oli, aki, tune up, modifikasi mobil dan masih banyak lainnya, agar mobil mereka tetap aman dan nyaman selama dikendarai. Karena merawat dan memelihara mobil sudah menjadi hal yang wajib dilakukan bagi semua pemilik dan pengguna mobil.
Usaha Bengkel Mobil yang baik dan bagus dituntut untuk memiliki mekanik yang handal dalam bidang otomotif  serta memberikan pelayanan yang memuaskan dan keramahan dari seluruh pegawai bengkel kepada setiap pelanggan yang datang, dan biasanya pelanggan akan senang dan menjadi loyal dengan kembali datang untuk memakai jasa bengkel mobil tersebut, pelanggan yang puas akan bercerita kepada orang lain dan bisa dipastikan bengkel mobil tersebut akan bertambah ramai oleh pelanggan-pelanggan baru, otomatis pemasukan pun kian bertambah pula.
Usaha Bengkel Mobil merupakan salah satu bidang usaha yang menjanjikan keuntungan yang besar apabila dikelola dengan baik dan benar, pangsa pasarnya pun sangat luas. Untuk membuka Usaha Bengkel Mobil memang dibutuhkan dana yang cukup besar akan tetapi sebanding dengan keuntungan yang akan didapatkan kelak, selain itu juga dibutuhkan keberanian untuk mengambil resiko. Dengan membuka bengkel mobil Anda dapat membantu mengurangi pengangguran dengan membuka lapangan pekerjaan.
Dari Usaha Bengkel Mobil ini telah menciptakan banyak pengusaha sukses yang mampu meraih keuntungan yang besar. Pada umumnya pelaku Usaha Bengkel Mobil tinggal berhitung berapa pundi-pundi rupiah yang akan didapat dengan menghitung jumlah pelanggan yang datang setiap bulannya. Luar biasa …

3.2.      Resiko Usaha
Risiko-risiko lain yang berhubungan dengan operasional bisnis bengkel mobil antara lain:
Jumlah Customer yang menurun karena:
    • Tidak puas atas kualitas pekerjaan
    • Tidak tepat waktu sesuai janji
    • Kurangnya rasa aman dan nyaman
    • Harga yang kurang wajar
    • Pelayanan yang kurang memuaskan
    • Terjadinya perselisihan antara pemilik saham
    • Penyalahgunaan keuangan oleh pemilik bengkel
    • Tindak kecurangan oleh pekerja bengkel yang melaksanakan fungsi pembelian dan petugas gudang suku cadang.
    • Force Majeure (antara lain : kebakaran, bencana alam, banjir)
    • Pegawai kunci berhalangan/berhenti/dibajak per usaha an lain

3.2.1.   Persaingan
Dalam teori kewirausahaan banyak hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang wirausawan. Dalam hal ini penulis menemukan banyak hal yang menjadi syarat wirausahawan, diantaranya yaitu, berani, pantang menyerah, mempunyai kepeercayaaan diri yang tinggi, jujur, kreatif, selalu berinovasi, berani mengambil resiko dan mampu menghadapi pesaing dalam usahanya. Sebelum memulai usaha, sebaiknya Anda melakukan riset mengenai hambatan-hambatan yang mungkin akan muncul di tengah perjalanan usaha. Dengan begitu Anda dapat menyiapkan strategi sedini mungkin, untuk mengantisipasi hambatan di masa depan. Salah satu risiko yang sering menghambat adalah risiko peningkatan persaingan bisnis. Pilihlah peluang bisnis sesuai dengan skil dan minat yang Anda miliki. Jangan sampai Anda memulai usaha hanya karena ikut-ikutan tren yang ada. Dengan memulai usaha sesuai dengan skil dan minat, setidaknya Anda memiliki bekal pengetahuan dan keahlian untuk mengurangi dan mengatasi segala risiko yang muncul di tengah perjalanan Anda. Hindari peluang usaha yang tidak Anda kuasai, ini dilakukan agar Anda tidak kesulitan dalam mengatasi segala risikonya.  Carilah informasi mengenai kunci kesuksesan bisnis Anda. Hal tersebut bisa membantu Anda untuk menentukan langkah-langkah yang dapat membuat usaha Anda berkembang, dan langkah apa saja yang tidak perlu dilakukan untuk mengurangi munculnya       risiko  yang    tidak    diinginkan.

 Berikut ini adalah  tabel penjualan Spare Part Mobil :
Tabel 4.1.
Dari Tahun 1997 – 2002
(Dalam Ribuan Rp)
Tahun
Penjualan
1997
196.400.311
1998
250.228.351
1999
349.449.757
2000
422.697.788
2001
593.903.903
2002
715.185.107
Proses Peramalan Dalam Penjualan
Trend Linier Dengan Metoda Least Squares



Dari data yang ada, peramalan penjualannya akan dilakukan dengan metoda Trend Linier Leass Squares adalah sebagai berikut :
Keterangan: Ŷ = Nilai Trend (Forecast)
a   = Bilangan konstan
b   =  Koefisien kecondongan garis trend
x    = Waktu (Tahun)
Dengan menggunakan rumus diatas, maka langkah berikutnya adalah mencari Nilai XY, dan jumlah Nilai X2 , seperti pada perhitungan dibawah ini:
Menghitung Jumlah Y,  Jumlah XY, dan Jumlah X2
Untuk Menghitung Trend dan Nilai Trend
Penjualan n Spare Part Bengkel
Data Tahun 1997 – 2002
Tahun
Penjualan
X
XY
X2
1997
196.400.311
-5
-982.001.555
25
1998
250.228.351
-3
-750.685.053
9
1999
349.449.757
-1
-349.449.757
1
2000
422.697.788
1
422.697.788
1
2001
593.903.903
3
1.781.711.709
9
2002
715.185.107
5
3.575.925.535
25
Jumlah
2.527.865.217
0
3.698.198.667
70
Dari penjumlahan diatas selanjutnya dapat dicari Nilai a dan b dengan rumus sebagai berikut:



a          =  ∑Y
n



                                                =  2.527.865.217
                                                            6
                                                =  421.310.869,5



b          =  ∑XY
                                                    ∑X2



=  3.698.198.667
                                                            70
=  52.831.409,5
Dari penjumlahan diatas dapat ditarik persamaan trend-nya yaitu:
Ŷ =  421.310.869,5  +  52.831.409,5 X
            (Y penjualan setiap tahun, satuan X = setengah tahun, origin pertengahan tahun 1999 – 2000)
Setelah mengetahui persamaan trend-nya, maka bisa dicari nilai trend penjualan  tiap-tiap tahunnya dengan melakukan substitusi nilai X pada tahun-tahun yang dimaksud, seperti pada perhitungan dibawah  ini:
Tahun 1997,  Y` =  a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( -5 )
=  157.153.822
Tahun 1998,  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( -3 )
=  262.816.641
Tahun 1999,  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( -1 )
=  368.479.460
Tahun 2000,  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 1 )
=  474.142.279
Tahun 2001,  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 3 )
=  579.805.098
Tahun 2002,  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 5 )
=  685.467.917
Tahun 2003  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 7 )
=  791.130.736
Tahun 2004  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 9 )
=  896.793.555
Tahun 2005  Y` = a  +  bx
                                       =  421.310.869.5 + 52.831.409,5 ( 11 )
                                       =  1.002.456.374
Tabel 4.3.
Hasil Penjumlahan Least Squares Trend
Tahun
Penjualan
X
Y`
Y – Y`
1997
196.400.311
-5
157.153.822
39.246.489
1998
250.228.351
-3
262.816.641
12.588.290
1999
349.449.757
-1
368.479.460
19.029.703
2000
422.697.788
1
474.142.279
51.444.491
2001
593.903.903
3
579.805.098
14.098.805
2002
715.185.107
5
685.467.917
29.717.190
2003
-
7
791.130.736

2004
-
9
896.793.555

2005
-
11
1.002.456.374

Analisis :
Dari tabel diatas, maka dapat diketahui peramalan untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 adalah sebesar Rp. 791.130.736, Rp. 896.793.555,   Rp. 1.002.456.374.
Trend Eksponensial
Untuk mencari persamaan trend Eksponensial, dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
Tabel 4.4.
Nilai Logaritma Y dan Nilai-nilai lain Untuk mencari
Persamaan Trend Eksponensial
Tahun
Penjualan (Y)
Log Y
X
X2
X Log Y
1997
196.400.311
8,2931
-5
25
-41,4655
1998
250.228.351
8,3983
-3
9
-25,1949
1999
349.449.757
8,5433
-1
1
-8,5433
2000
422.697.788
8,6260
1
1
8,6260
2001
593.903.903
8,7737
3
9
26,3211
2002
715.185.107
8,8544
5
25
44,272
-
Jumlah
51,4888
0
70
4,0154

            Dari hasil penjumlahan diatas, maka selanjutnya dapat dicari nilai log a dan log b dengan menggunakan perhitungan seperti dibawah ini :



Log a  =  ∑ log y



                                                         n



=  51,4888
6
=  8,5814



Log b  = ∑ ( x . log y )
                                                           ∑x2



                                                =  4,0154        
                                                        70
=  0,0573
Sehingga persamaan trend dalam logaritma adalah sebagai berikut:
Log Ŷ =  8,5814  +  0,0573 X
( Y = Penjualan setiap tahun, X =  setengah tahun, origin pertengahan tahun 1999-2000 ).
Untuk membuat proyeksi kita gunakan persamaan diatas, tentu saja yang pertama kali bisa di hitung log Ŷ pada tahun yang dikehendaki. Proyeksi pada tahun mendatang adalag sebagai berikut:
Tahun 1997, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( -5 )
=  8,2949
Forecast untuk tahun 1997 = 197.196.862 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 1998, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( -3 )
=  8,4095
Forecast untuk tahun 1998 = 256.743.821 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 1999, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( -1 )
=  8,5241
Forecast untuk tahun 1999 = 334.272.000 ( Dicari dalam Tabel Logaritma )
Tahun 2000, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 1 )
=  8,6387
Forecast untuk tahun 2000 = 435.211.137 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 2001, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 3 )
=  8,7533
Forecast untuk tahun 2001 = 566.630.568 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 2002, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 5 )
= 8,8679
Forecast untuk tahun 2002 = 737.734.341 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 2003, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 7 )
=  8,9825
Forecast untuk tahun 2003  = 960.505.818 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 2004, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 9 )
=  9.0971
Forecast untuk tahun 2004  =  1.250.546.946 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tahun 2005, log Ŷ =  log a  +  log bx
=  8,5814 +  0.0573 ( 11 )
=  9.2117
Forecast untuk tahun 2005  =  1.628.170.943 ( Dicari dalam tabel logaritma )
Tabel 4.5.
Hasil Perhitungan
Dengan menggunakan Persamaan Trend Eksponensial
Tahun
Penjualan
Log Y
X
Ŷ
Y – Ŷ
1997
196.400.311
8,2931
-5
197.196.862
796.551
1998
250.228.351
8,3983
-3
256.743.821
6.515.470
1999
349.449.757
8,5433
-1
334.272.000
15.177.757
2000
422.697.788
8,6260
1
435.211.137
12.513.349
2001
593.903.903
8,7737
3
566.630.568
27.273.335
2002
715.185.107
8,8544
5
737.734.341
25.549.234
2003
-
8,9825
7
960.505.818

2004
-
9,0971
9
1.250.546.946

2005
-
9,2117
11
1.628.170.943

Analisis :
Dari tabel diatas, maka dapat diketahui peramalan untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 adalah sebesar Rp. 960.505.818, Rp. 1.250.546.946, Rp. 1.628.170.943.
Tabel 4.6.
Tabulasi Nilai Peramalan
Tahun
Penjualan
Least Squares
Y – Y`
Trend Eksponensial
Y – Ŷ
1997
196.400.311
157.153.822
39.246.489
197.196.862
796.551
1998
250.228.351
262.816.641
12.588.290
256.743.821
6.515.470
1999
349.449.757
368.479.460
19.029.703
334.272.000
15.177.757
2000
422.697.788
474.142.279
51.444.491
435.211.137
12.513.349
2001
593.903.903
579.805.098
14.098.805
566.630.568
27.273.335
2002
715.185.107
685.467.917
29.717.190
737.734.341
25.549.234
2003
-
791.130.736
-
960.505.818
-
2004
-
896.793.555
-
1.250.546.946
-
2005
-
1.002.456.374
-
1.628.170.943
-

———
Jumlah
166.124.968
Jumlah
87.825.696

Tidak ada komentar:

Posting Komentar